Saudi Cabut Larangan Mengemudi Untuk Wanita

Saudi Cabut Larangan Mengemudi Untuk Wanita

Kerajaan Arab Saudi pada hari Selasa lalu akhirnya mencabut larangan mengemudi untuk wanita. Menurut para ekonom, pengumuman oleh Raja Salman bin Abdulaziz al Saud tampaknya menghemat dana rumah tangga orang-orang. Saudi sampai miliaran dolar sambil meningkatkan industri otomotif untuk penjualan mobil dan asuransi dan menarik investor.

Langkah ini sejalan dengan ambisi pewaris takhta kerajaan Pangeran Muhammad bin Salman untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui diversifikasi selain mengandalkan minyak.

Dengan mencabut larangan mengendarai wanita maka perempuan diharapkan bisa memasuki lapangan kerja sehingga bisa meningkatkan produktivitas ekonomi.

“Luar biasa,” kata mahasiswa bernama Reyouf Almuhaya, 20 tahun. “Saya meneteskan air mata. Ini melegakan, sekarang pikiran saya dipenuhi dengan kebebasan.”

Seperti banyak wanita lainnya, Almuhaya ada di dalam mobil saat dia mendengar kabar baik tersebut. Saat itu dia mengantar supirnya. Almuhaya kemudian memberitahu sopirnya dan sepertinya dia tidak menyukainya.

“Reaksi seperti ‘maka kapan saya akan dipecat’,” katanya, seperti dilansir laman Bloomberg, Rabu (27/9).

Akan Banyak PRT yang Dipecat

Saat wanita Saudi diijinkan menyetir, ratusan ribu pengemudi pria yang biasanya membawa asisten pembantu rumah tangga kebanyakan dari Asia Tenggara dan Filipina akan kehilangan pekerjaan. Itu berarti mereka akan mengurangi kiriman uang buat keluarga di rumah dan dengan demikian memperkuat neraca pembayaran Saudi dan mengurangi pendapatan negara asal mereka.

Pelepasan larangan tersebut tentunya akan mempengaruhi gaya hidup jutaan orang Saudi, termasuk sekitar 10 juta wanita berusia di atas 20 tahun, termasuk orang asing dan sekitar 1,4 juta pekerja asing yang bekerja sebagai pengemudi domestik.

“Dengan tidak adanya pengemudi keluarga maka ini akan meningkatkan pendapatan masyarakat kelas menengah ke bawah,” kata. Monica Malik, ekonom dari Abu Dhabi Commercial Bank.

Pengamat energi juga menyatakan bahwa jika wanita mengendarai maka diperkirakan akan terjadi kenaikan permintaan bahan bakar sebanyak sepuluh persen dari sebelumnya atau sekitar 60 ribu barel per hari untuk kebutuhan dalam negeri. Meski dikenal sebagai eksportir minyak namun Arab Saudi juga merupakan importir bahan bakar.

Baca juga berita terkini lainnya di MerdekaSeo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!