Sri Rahayu Ningsih Ternyata Anggota Saracen

Sri Rahayu Ningsih Ternyata Anggota Saracen

Polisi mengungkap sindikat penebar kebencian yang beroperasi di media sosial. Nama sindikat itu adalah Saracen. Dari hasil penyelidikan, mereka bergerak tidak sembarangan, tapi tersusun rapi dan terorganisasi. Sejumlah nama disebut dalam struktur organisasi sindikat penyebar kebencian itu. Salah nama yang menarik perhatian adalah Sri Rahayu Ningsih.

Sebelum ditangkap karena tergabung dalam sindikat Saracen, Sri Rahayu Ningsih pernah berurusan dengan polisi karena kasus yang sama.

Sri Rahayu Ningsih sebelumnya terbukti menyebarkan konten terkait suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta ujaran kebencian di akun media sosial Facebook melalui akun Ny Sasmita.

Sri Rahayu Ningsih alias Ny Sasmita saat itu ditangkap di Cianjur, Jawa Barat pada 5 Agustus 2017.

Penangkapan Sri Rahayu menjadi salah satu gerbang yang menyingkap jaringan Saracen, sindikat yang dengan sengaja ‘menjual’ berita bohong, dengan konten yang disesuaikan dengan keinginan klien.

“Ya sama. Ya kan banyak posting-an. Ada penghinaan kepada pejabat publik. Tapi di antara itu adalah SARA. SARA itulah yang kita terapkan kepada itu,” ujar Kasubbag Ops Satgas Patroli Siber Bareskrim Polri AKBP Susatyo Purnomo saat dimintai konfirmasi, Rabu (23/8/2017).

Sri Rahayu Ningsih Dijerat Pasal Ujaran Kebencian

Susatyo menerangkan Sri ditangkap bukan karena konten penghinaan terhadap Jokowi, melainkan lantaran posting-annya yang bernuansa SARA di media sosial. Memang di antara sekian banyak posting-an di akunnya tersebut, ada konten penghinaan terhadap pejabat.

“SARA, memang ada penghinaan, tapi kan delik aduan. Tapi dari semua konten-konten itu, ada konten SARA,” terangnya.

Sri dikenakan tindak pidana ujaran kebencian atau hatespeech dengan konten SARA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45A ayat 2 jo Pasal 28 ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan UU ITE dengan ancaman 6 tahun penjara, dan atau Pasal 45 ayat 3 jo Pasal 27 ayat 3 UU ITE dengan ancaman 4 tahun penjara.

Susatyo mengatakan, Sri aktif di kelompok tersebut sejak 2016. Selain Sri, polisi telah menetapkan JAS selaku ketua Saracen dan MFT selaku tim media informasi sebagai tersangka.

Grup SARACEN menggunakan beberapa sarana untuk menyebarkan ujaran kebencian berbasis SARA. Media tersebut antara lain di Grup Facebook Saracen News, Saracen Cyber Team, situs Saracennews.com, dan berbagai grup lain yang menarik minat netizen untuk bergabung.

Hingga saat ini diketahui jumlah akun yang tergabung dalam jaringan Grup Saracen lebih dari 800.000 akun.

Sindikat yang tergabung dalam grup “Saracen” di Facebook mengunggah konten ujaran kebencian dan berbau SARA berdasarkan pesanan. Tujuan mereka menyebarkan konten tersebut semata alasan ekonomi.

Baca juga berita terkini lainnya di MerdekaSeo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!